Setelah berpuasa sebulan penuh, sebentar lagi umat Islam merayakan Idul Fitri dengan suka cita. Secara simbolik, perayaan Idul Fitri berarti pernyataan ’kembali ke fitrah’. Tapi fitrah seperti apakah yang ingin dirayakan? Jawabannya tentu terkait dengan bulan Ramadhan di mana takwa menjadi tema sentralnya. Tema yang acap kali dikhotbahkan di mimbar Ramadhan maupun Idul Fitri, tapi toch kita tak kunjung menyaksikan hadirnya model takwa dalam realitas sosial kita. Yang ada hanya Ramadhan dan Lebaran, berlangsung berulang ulang setiap tahunnya, kemudian diakhiri dengan shalat Id. Sebagian umat berhasil mengisi kekosongan spiritualnya sejenak dengan khusuk, sebagian hanya lapar, menghamburkan uang dan berhura-hura, sebagian lagi menikmati bisnis Ramadhan dan Lebaran dengan senang.
Idul fitri sebagai muara prosesi Ramadhan mengandung tiga makna penting; yakni keimanan, kedermawanan dan toleransi. Ketiga aspek ini harus dirayakan secara bersama-sama. Dasar moralnya adalah perintah takwa yang juga menjadi obsesi Ramadhan. Dalam Quran dinyatakan bahwa puasa diperintahkan supaya ‘kalian bertakwa’ (Q:2:183). Secara harfiah, takwa berarti ‘takut pada Allah’. Quran acap kali mengaitkan takwa dengan beberapa hal lainnya, di antaranya iman dan shalat, infak, mengekang amarah serta memaafkan sesama. Berimbang dan koheren antara aspek langit dan bumi, antara teosentrisme and antroposentrisme. Koherensi yang apik antara keimanan, kedermawanan dan toleransi. Nilai-nilai ini lah yang lazimnya menjadi landasan moral dan sikap kaum Muslimin pasca-Idul Fitri. Secara individual, banyak kalangan Islam memahami dan mengamalkan moralitas itu dengan baik, namun secara kolektif, fondasi penting ini masih berfungsi sebatas retorikal dan belum menjelma dalam tradisi dan etika sosial umat Islam.
Masalah Keimanan dan Toleransi
Keimanan atau ketaqwaan terkait erat dengan perintah mengekang amarah (Quran: kazim ghaidh) dan memaafkan sesama manusia (Quran: ‘afina ‘aninnas). Saya formulasikan keduanya dalam istilah toleransi atau juga sabar. Pesan ini jelas dan tegas. Tapi di sini pula terletak kontradiksi dalam masyarakat. Misalnya, sering kita saksikan kekerasan atas nama agama di bulan Ramadhan ataupun di waktu lainnya. Ini paradoks dan kontradiktif! Kekerasan menunjukkan tidak toleran dan tidak sabar dalam beragama. Kekerasan juga cerminan lemahnya kearifan dan ketidak-berdayaan.
Keimanan adalah percaya dan berserah diri pada Tuhan. Orang beriman harus sadar bahwa dia beriman karena tidak percaya pada zat selain Tuhan. Imannya terbentuk karena ketidak-percayaan (pada yang lain). Selalu bersifat dialektikal, sebuah proses dinamis dalam batin anak cucu Adam. Rasulullah SAW menyatakan iman itu fluktuatif, bisa naik turun dan bahkan sirna. Artinya orang beriman bisa saja berubah menjadi kafir. Sebaliknya orang kafir suatu saat bisa kembali beriman bila Tuhan memberinya hidayat. Karenanya realitas yang ‘kafir’ di luar sana adalah misteri. Demikian halnya maksiat tidak selamanya permanen. Selalu saja ada ruang pertobatan. Menyikapinya secara a-priori adalah kurang bijak. Tataplah fakta itu dengan bijak. Tuhan lah yang Maha Tahu dan kuasa membuat seseorang beriman atau bertobat, membiarkannya kafir, atau menghukumnya bila Dia berkehendak. Adalah di luar kuasa manusia membuat seorang hamba beriman, atau menjalankan syariat, apalagi dengan paksaan atau kekerasan. Ini sikap keimanan yang tidak toleran. Kontradiktif dengan spirit takwa yakni mengendalikan amarah. Atau juga prinsip menjalankan syariat yang meniscayakan niat tulus dan ikhlas.
Syariat hanya bermakna apabila dijalankan dengan niat baik dan ihklas; dengannya seseorang berhak mendapatkan pahala. Adapun orang yang tidak beribadah, katakanlah tidak berpuasa, adalah Tuhan yang paling adil untuk menghukumnya, bukan manusia. Kecuali bila manusia ingin merampas hakNya. Orang hanya bisa menganjurkan orang lain taat pada syariat dengan santun. Itulah hakikat dakwah; ‘mengajak’ orang lain dengan persuasif dan halus. Kesantunan merupakan moralitas dakwah yang hakiki. Berdakwah tanpa moralitas adalah sia-sia. Fitrah manusia itu sendiri santun, toleran dan condong kepada kebenaran (alhanifiyah samhah). Karenanya dengan fitrahnya manusia condong pada keimanan, apalagi bila ia dituntun dengan sabar. Manusia cenderung menolak atau bahkan melawan apabila disapa dengan kasar. Bila menerimanya, diterimanya dengan hipokrit. Ini sifat manusia. Tidak sulit memahaminya, sebab kita biasa mengalaminya setiap hari.
Selain itu, prinsip iman, ikhlas, serta adanya pahala dan dosa, juga mengharuskan setiap Muslim beribadah dengan tulus tanpa menuntut penghormatan. Kebiasaan sebagian umat Islam yang menganjurkan orang lain menghormati mereka di bulan Ramadhan adalah tidak patut. Sebagai sesama warga negara, lazimnya orang saling menghormati, tapi bukan meminta dihormati. Bahkan orang yang berpuasa pun berkewajiban menghormati mereka yang tidak berpuasa. Termasuk menghormati mereka yang mencari nafkah dengan berjualan makanan di bulan Ramadhan. Sebab ada banyak orang yang tidak wajib berpuasa, terutama non-Muslim, Muslim musafir, orang sakit, atau perempuan yang berhalangan. Mereka wajar mendapatkan makanan dari jasa dan layanan publik. Dengan bersikap demikian, sama sekali tidak mengurangi mutu puasa seseorang. Seseorang yang niat berpuasa dengan iman dan ikhlas, dia tak akan membatalkan puasanya hanya karena orang lain menjajakan makanan di sekitarnya. Dengan menghormati dan toleran terhadap orang lain, dengan sendirinya kita dihormati. Itu lah prinsip resiprokal dalam kehidupan bermasyarkat dan berbangsa termasuk dalam kehidupan keberagamaan kita. Sabar dan toleran merupakan inti keimanan.
Keimanan dan Kedermawanan
Makna berikutnya dari Idul Fitri adalah keimanan dan kedermawanan. Secara sosial, kembali ke fitrah berarti bersedia berperan aktif menyejahterakan masyarakat agar tatanan sosial yang penuh rahmat dapat terwujud. Dengan kata lain, keimanan yang transedental mesti berwujud dalam komitmen dan kemauan untuk berbagi. Ini tidak sekadar berderma atau memberi zakat tapi harus disertai kepekaan. Selain dilandasi keimanan, menjalankan perintah zakat juga harus berdasarkan akuntabilitas agar tidak mendistorsi misi, tujuan dan manfaat berzakat. Iman harus diikuti tata kelola pelaksanaan kebajikan (amal soleh). Tragedi zakat di Pasuruan beberapa waktu lalu, misalnya, contoh ‘distorsi’ misi dan tujuan zakat. Gambaran kedermawanan tanpa kepekaan dan akuntabilitas. Zakat adalah ide tentang kepedulian terhadap fakir miskin; gagasan untuk mempromosikan martabat kaum dhuafa agar kodrat kemanusiaannya tidak ternodai. Karenanya redistribusi kekayaan kepada golongan lemah ini hendaknya dilakukan dengan komitmen moral, bertanggungjawab dan profesional. Distribusi zakat secara inter-personal harus segera dibatasi, dengan memperkuat peran institusi zakat serta tingkat kepercayaan publik terhadapnya. Tidak hanya untuk mencegah berulangnya malapetaka, tapi yang terpenting adalah melindungi martabat si penerima zakat serta mencegah langgengnya relasi kuasa antara si kaya- si miskin sebagai tema sentral zakat. Dengan demikian pula, keikhlasan kaum dermawan serta kemurnian imannya terpelihara dengan baik, sebagai wujud dan tekad kembali ke fitrahnya yang suci.
Mudik dan Merayakan Idul Fitri
Mudik atau pulang kampung adalah pesta khas tahunan yang dinanti-nantikan jutaan orang. Sebagai peristiwa budaya, boleh jadi mudik tak ada bandingannya sejagat. Selain penuh makna, mudik dirayakan dalam sesi Lebaran bersama kerabat dengan penuh haru dan ceria. Tujuan sakralnya merajut kembali ikatan batin yang barangkali retak di tahun silam. Motif batin untuk silaturahim membuat pelbagai hambatan di jalan tak jadi soal. Bagi pemudik, yang penting pulang dan sampai di rumah dengan selamat.
Artinya mudik harus dengan tekad. Tekad untuk pulang kampung, kembali ke asal muasalnya; kembali ke fitrahnya yang otentik; sebagai sumber kebahagiaan hakiki; untuk menjadi Muslim yang fitri. Dalam bahasa yang konkret, saya rumuskan Muslim yang fitri adalah yang beriman dan berserah diri pada Tuhannya, peka dan toleran. Sikap toleran juga relevan dengan watak moderat Islam (din wasathan). Jadi kembali ke fitrah berarti menjadi Muslim yang beriman serta bertanggungjawab mewujudkan tatanan sosial yang sejahtera dan damai.Fitrah juga berarti suci bersih. Dalam hadith, fitrah bermakna kembalinya manusia ke eksistensinya yang secara alamiah suci-bersih. Di sini terlihat jelas resonansi positif serta perspektif yang optimis tentang manusia. Almarhum Nurcholish Madjid sering menggunakan makna fitrah untuk menggambarkan Islam sebagai agama kemanusiaan (Madjid, 1991). Dengan demikian mudik, pulang kampung atau kembali ke fitrah adalah wacana yang bermula dari keimanan dengan individu sebagai titik asal, namun bertujuan merestorasi martabat kemanusiaan sebagai tujuan sentral. Dan ini harus menjadi agenda kolektif umat sejak hari ini.
Setelah berpuasa sebulan penuh disertai aktivitas sosial lainnya, seorang Muslim seyogyanya bertekad mengintegrasikan nilai-nilai luhur keimanan, kedermawanan dan toleransi dalam dirinya. Bila enggan mengemban tugas moral ini, berarti ia gagal kembali ke fitrahnya. Kepribadiannya sebagai Muslim merosot. Adapun bagi yang bertekad mereka berhak merayakan Idul Fitri secara suka cita; Merayakan keimanan mereka, merayakan kedermawanan terhadap yang lemah, dan merayakan toleransi di antara sesama umat manusia. Mari sama-sama merayakannya! Selamat Idul Fitri 1430H, Minal Aidin Walfaizin, Maaf Lahir dan Batin.
Penulis adalah dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Research Fellow di NUS Singapura dan Direktur CSRC UIN Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar